Dari mata turun ke hati, dari mendung turunlah
hujan, segala yang dialami seseorang tidak lain pastilah ada sebab dan
penyebabnya, baik diketahui maupun tidak. Seorang memandang ada banyak
faktor yang mendukungnya, baik ketertarikan, takjub, iseng, ingin tahu,
menikmati, dan alasan-alasan yang lainnya. Namun hendaknya seorang muslim
selayaknya agar selalu menjaga pandangannya, jangan sampai gara-gara
matanya ia mendapat marabahaya.
Baik
disengaja maupun tidak, semua pandangan pasti memiliki bekas dan pengaruh
pada yang memandang maupun yang dipandang, disini kami ingin memaparkan
pengaruh dari sebuah pandangan.
Allah berfirman yang artinya : “Dan sesungguhnya
orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan
mereka, tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata:
"Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila. Dan Al Quran
itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat”. (QS. Al-Qolam: 51-52)
Ibnu katsir rahimahullah berkata : Ibnu Abbas dan
Mujahid dan yang lainya berkata “Layuzlikunaka” artinya: mengenai dan
menembusmu (dengan pandangan matanya) yaitu memandangimu dengan matanya dengan
rasa dengki karena kebencian mereka kepadamu, jikalau bukan karena perlindungan
Allah Ta’ala kepadamu dan penjagaannya dari mereka. (Tafsir
Ibnu Katsir).
Ayat diatas menunjukan bahwa ‘Ain (pandangan mata
jahat) memiliki dampak dan pengaruh yang sungguh nyata adanya dengan ketentuan
Allah Ta’ala. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah
bersabda : “Untuk apa salah satu dari kaalian ingin membunuh saudaranya? Kenapa
kamu tidak mendoakan keberkahan apabila melihat sesuatu yang menakjubkan!)) (HR. Ahmad dalam
musnadnya)
Sebagian manusia mengingkari perihal ‘Ain ini,
mereka mengatakan : Bahwa ‘Ain itu hanya sekedar dongeng
belaka tidak ada wujudnya, sebenarnya mereka adalah orang yang jahil serta
kurang akan pendengaran dan akalnya, sebab mereka tidak tahu akan ruh,
Jiwa, sifat dan perbuatannya serta pengaruhnya. Padahal para cendikiawan dari
berbagai kalangan agama, mereka tidak pernah mengingkari pengaruh pandangan
mata itu, hanya saja mereka berselisih tentang penyebabnya dan sisi
pengaruhnya.( Zadul Ma’ad, ibnu Qoyyim).
Sejatinya tidak diragukan lagi, bahwa Allah -Ta’ala- telah
menciptakan dalam ruh dan tubuh kekuatan serta tabiat yang
berbeda-beda dan menjadikan sebagian besar darinya indra dan sifat
yang dapat mempengaruhi, maka tidak mungkin bagi seorang yang berakal
mengingkari pengaruh ruh dalam jasad kasarnya, karena hal itu sering disaksikan
dan dirasakan.
Maka ruh seorang yang hasad akan mencelakai pada orang yang
dihasadinya. Oleh karenanya Allah memerintahakan rasulNya Shallallahu
‘alaihi wasallam agar berlindung dari keburukan para penghasad.
Macam-macam ‘ain dan hasad
1. Pandangan dengan rasa takjub adalah ketakjuban yang
berlebihan dengan salah satu nikmat yang Allah berikan kepada hambanya,
kemudian ia merusaknya dengan izin Allah apabila ia tidak mendoakan keberkahan
kepadanya.
2. Mata/ pandangan hasad, adalah mengaharapkan hilangnya
nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada orang yang ia hasadi,
dikarenakan kecemburuan, iri dengki, dan kebencian, hingga berdampak pada orang
yang dihasadinya.
3. Mata/ pandangan yang mematikan, ini yang paling berbahaya
ia berasal dari orang yang memiliki ‘Ain kepada orang yang
dikehendaki kecelakaan baginya. Dan tentu keinginannya di bawah kehendak Allah Ta’ala.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- menamakannya dengan ‘ain yang
mematikan. Tatkala Amir bin Robiah berbuat ‘ain kepada Sahl
bin Hunaif -radhiyallahu ‘anhuma-, Rasulullah -Shallallahu
‘alaihi wasallam- memanggil Amir, maka rasulullah -Shallallahu
‘alaihi wasallam- marah kepadanya, dan mengatakan : “Untuk apa
salah satu dari kalian ingin membunuh saudaranya? Kenapa kamu tidak mendoakan
keberkahan apabila melihat sesuatu yang menakjubkan!”. (HR. Ahmad dalam
musnadnya)
Al-kalbi berkata : dahulu seorang badui, berdiam tidak makan
selama dua atau tiga hari, lalu ia keluar dari tendanya, lalu lewatlah seekor
unta merah dan berkata : hari ini tidak ada yang mengembala unta atau kambing
yang lebih baik dari ini. Maka ketika baru beranjak jatuhlah dari sebagian
kelompok unta hingga binasa. Maka orang Kufar pun meminta kepada orang ini
(sang badui) agar ia menimpakan kepada rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam kecelakaan dengan ‘Ainnya, maka ia (sang badui)
memenuhinya, akan tetapi Allah menjaganya.(Tafsir Al-Qurtubi :
al-Qolam 51 ).
Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata dalam karyanya Bada’i
Al-fawaid, ketika menerangkan surat Al-Falaq : “Maka demi
Allah, berapa banyak dari orang yang terbunuh, dan berapa banyak dari orang
yang sehat menjadi kurus sakit-sakitan di atas kasurnya, dokternya berkata,
saya tidak tahu apa penyakitnya, maka benarlah ia penyakit ini bukan penyakit
biasa, ini ruh dari ilmu ruh, sifat-sifatnya dan kebiasaanya, dan pengetahuan
tentang ilmu itu tidak diketahui kecuali orang-orang tertentu.
Adapun cara-cara hasad dan ‘Ain
Diantaranya ada yang mempengaruhi seseorang hanya dengan melihat
tidak secara langsung, karena sangking buruknya jiwanya, dan cara mempengaruhi
itu tidak terbatas pada interaksi tubuh secara langsung. Sebagimana yang
disangka oleh orang yang tidak mengetahui ilmu syari’at, akan tetapi
pengaruh itu bisa dengan interaksi secara lansung, terkadang dengan berhadapan,
dan terkadang dengan melihat, terkadang juga dengan mengarahkan ruhnya kepada
orang yang ingin ia pengaruhi, dan adakalanya dengan terka’an dan
khayalan.
Dan orang yang memiliki ‘Ain, pengaruhnya tidak
terbatas pada penglihatan, bahkan bisa saja ia orang yang buta yang kemudian
digambarkan baginya sesuatu (yang ingin ditimpakan ‘Ainnya), ia pun
dapat memberi pengaruh padanya, walaupun ia tidak melihatnya. Dan betapa
banyaknya orang yang memiliki ‘Ain mempengaruhi korbannya
hanya dengan disebutkan sifatnya tanpa melihatnya.
Mata manusia dan mata jin
Dampak mata jahat bisa dari manusia bisa juga dari jin, ‘ainnya
jin dapat berpegaruh sebagaimana ‘ainnya manusia dalam sunan an-nasai
dari abi nadhroh dari abi said berkata : dahulu Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam berlindung dari Ain jin dan Ain manusia, ketika turun
ayat ta’awudz beliau pun mengambilnya dan meninggalkan selainnya.
Ibnu qoyyim berkata : “Dan ain itu ada dua, ainnya manusia,
dan ainnya jin. Sebagaimana dalam hadist yang sahih dari
ummu salamah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat
dalam rumahnya anak kecil perempuan, pada mukanya bintik-bintik hitam lalu
beliau berkata : “Bacakan ruqyah padanya, sungguh ia terkena
pandangan”.[Zadul Ma’ad, Ibnu Qoyyim]
Ada hadist yang menganjurkan untuk menutup aurat dari pandangan
jin, dari Ali bin Abi Tholib bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda : “Penutup antara mata jin, dan aurat bani
adam apabila salah satu dari kalian masuk kamar mandi ucapkanlah : bismilllah”. (HR.
Tirmizi , shahih)
Dan setiap orang dapat mengenai ainya dengan izin Allah, oleh
karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila
salah satu dari kalian melihat pada dirinya atau hartanya, atau pada saudaranya
sesuatu yang menakjubkannya, maka doakanlah ia dengan keberkahan, karena
sesungguhnya ain(mata yang jahat) itu hak” (HR. At-tirmizi, shahih).
[Sumber; Al-minhal Al-ma’in fi itsbat Al-Hasad wal ‘Ain,
karya Abul Bara’ Usamah bin Yasin]
(Faqih hamzah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar