Senin, 19 November 2012

Ibadah Dalam Keseharian Kita



           Sebagai seorang muslim yang taat ,tentunya shalat wajib lima waktu,puasa ramadhan dan ibadah wajib lainnya merupakan sebuah kewajiban yang selayaknya diamalkan secara rutin dan tidak boleh ditinggalkan oleh kita semua. Sebagai bentuk pengamalan perintah Allah Ta’ala dalam firmannya yang artinya:”Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaku saja”.(QS.Adz-dzariyat:56)

Dan ibadah yang telah kami sebutkan merupakan ibadah yang dominan bersifat vertikal(ibadah mahdhah), antara makhluk dengan Sang Khaliq.
Disamping itu, ada juga ibadah yang bersifat horizontal(ibadah ghoiru mahdhah) yang berupa interaksi sesama manusia.

Hakikat ibadah
Imam Ahmad bin Abdul Halim Al Harraniy  rahimahullah pernah menjelaskan makna dari ibadah. Beliau mengatakan: ”Ibadah adalah seluruh perkataan dan perbuatan, baik yang lahir maupun batin yang diridhai serta dicintai oleh Allah Ta’ala’’(At Tanbihat Al Mukhtsoroh,hal: 99). Dengan demikian kita bisa menganalogikan setiap amal ibadah yang  kita lakukan berupa  perbuatan atau perkataan dalam makna ibadah yang beliau jelaskan.

Macam-macam ibadah
Imam Muhammad bin Sulaiman At-Tamimiy  rahimahullah dalam menjelaskan macam-macam bentuk ibadah beliau mengatakan:” Diantara berbagai  macam ibadah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepada kita adalah islam, iman, ihsan, berdo’a, khusyu’, rasa takut, rasa harap, tawakkal, memohon pertolongan, memohon perlindungan, menyembelih, bernadzar dan masih banyak lagi amal ibadah yang lain. Semua amal ibadah tersebut hanya boleh ditujukan dan diniatkan  kepada Allah Ta’ala saja’’(Al-Ushuluts Tsalatsah,hal: 6).
                Dengan demikian kita  dapat mengklasifikasikan aneka ragam bentuk ibadah tersebut dalam empat kelompok besar, yaitu:
1.       Ibadah yang dilakukan dengan lisan berupa ucapan dan perkataan. Misalnya berdoa, memohon pertolongan, memohon perlindungan dan yang lainnya.
2.       Ibadah yang dikerjakan dengan anggota badan. Misalnya menyembelih(berkurban), shalat, haji dan yang lainnya.
3.       Ibadah yang dikerjakan dengan hati atau yang diistilahkan dengan amalan hati. Misalnya tawakkal, rasa harap, rasa takut dan yang lainnya.
4.       Ibadah yang dilakukan dengan harta benda yang kita miliki. Misalnya menunaikan zakat , menafkahi keluarga, bersedekah kepada tetangga , dan lain sebagainya

Lantas apa indikasi standar dalam menentukan suatu ibadah?, Dibawah ini akan kami sebutkan batasan-batasannya. Bagaimana kita bisa mengetahui apakah hal tersebut ibadah atau bukan?. Diantara ciri-ciri amal ibadah adalah:
1.       Apabila perbuatan tersebut diperintahkan oleh Allah Ta’ala.  Allah Ta’ala berfiman yang artinya:” Maka shalatlah kamu dan berkubanlah(sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)”.(QS Al Kautsar:2)
2.       Apabila orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut dipuji oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfiman yang artinya:”Sesungguhya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera( dalam mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan penuh rasa harap dan cemas. Dan mereka adalah orang – orang yang khusyu ’(dalam beribadah) kepada kami ”. (QS.Al- anbiya’: 90)
3.       Apabila perbuatan tersebut terlarang  jika ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfiman yang artinya:”Dan barangsiapa berdoa(menyembah) tuhan yang lain disamping (menyembah) Allah. Padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang hal itu. Maka  perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang- orang yang kafir itu tidak akan pernah  beruntung”.QS.Al-mukminun:107
4.       Apabila perbuatan tersebut khusus untuk Allah Ta’ala saja. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:’’ Katakanlah(wahai Muhammad) : ‘’sesungguhnya shalatku, sembelihanku(kurbanku), hidupku dan matiku hanya untuk Allah”.(QS.Al-an’am:162)
5.       Apabila perbuatan tersebut mendapatkan balasan atau ganjaran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Barangsiapa yang berpuasa di bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan  ingin mencari pahala,maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.(Muttafaqun alaiharii).
6.       Apabila orang-orang yang enggan dan sombong dalam melakukan perbuatan tersebut akan mendapatkan ancaman berupa siksa neraka dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman yang artinya :’’Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina".(QS Al Mu’min:60)
Dan masih banyak lagi indikasi lainnya yang semakna.

Diterimanya amal ibadah kita

Dengan banyaknya amal ibadah yang kita praktekkan dan juga dilakukan secara rutin tentunya. Apakah amalan kita tersebut akan diterima oleh Allah Ta’ala secara otomatis?, Atau adakah kriteria tertentu  agar suatu amal ibadah diterima di sisi Allah?. Jawabannya adalah ”ya”, tentu ada kriterianya. Dan syarat diterimanya amal ibadah (Jami’ul Ulum wal Hikam ,hal: 105) yang kita kerjakan adalah :

1.Niat ikhlas untuk mencari pahala dan ridha dari Allah Ta’ala.
                Sekiranya ada seseorang bersedekah karena ingin dikatakan sebagai orang yang dermawan, orang  yang kaya raya dan yang lainnya. Maka amal ibadahnya tidak diterima secara otomatis dan gugur tidak bernilai. Allah Ta’ala berfiman yang artinya:” Jika kamu mempersekutukan (dalam amal ibadahmu),niscaya akan hapuslah amalmu  dan tentulah kamu termasuk orang – orang yang merugi”(QS.Az-zumar:65)
Nyatalah bagi kita urgensi niat dalam amal ibadah yang kita lakukan. Imam Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah  mengatakan:”Betapa banyak amalan yang remeh berubah menjadi bernilai tinggi  karena niat, dan betapa banyak amalan  yang agung berubah menjadi  hina karena niat’’(Jami’ul Ulum wal Hikam ,hal: 19). Perkataan beliau ini mengindikasikan kualitas suatu amal ibadah yang kita lakukan  ditentukan oleh niat yang ada dalam hati kita. Apakah kita menginginkan balasan dari Allah Ta’ala atau yang selain-Nya.          
2. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
                Apabila anda adalah seorang penjahit baju. Kemudian hasil kerja anda tidak sesuai dengan ukuran yang dipesan oleh sang pelanggan, maka sudah bisa dipastikan bahwa hasil kerja anda akan ditolak, bahkan anda akan mendapat teguran dari sang pelanggan. Dan dalam beberapa kasus , sang penjahit akan dimintai ganti rugi. Ini adalah analogi sederhana berkaitan dengan perbuatan sebagian kaum muslimin yang beribadah tanpa ada tuntunan yang jelas dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:’’ Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih’’.
(QS. Asy-Syura: 21)

 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda:” Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari  kami, maka amalan tersebut akan tertolak”.(HR.Bukhari dan Muslim)
                Diakhir tulisan yang ringkas ini kami mewasiatkan kepada seluruh kaum muslimin agar senantiasa menjaga kuantitas dan kualitas amal ibadah mereka dan senantiasa istiqomah di dalamnya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin secara umum terkhusus bagi  diri penulis. Amiin

Maraji’:
Al-Ushuluts Tsalatsah, oleh Imam Muhammad bin Sulaiman At-Tamimy  rahimahullah
Jami’ul Ulum wal Hikam, oleh Ibnu Rajab Al-Hambaly rahimahullah




Tidak ada komentar:

Posting Komentar