Sebagai seorang muslim yang taat ,tentunya shalat wajib lima waktu,puasa ramadhan dan ibadah wajib lainnya merupakan sebuah kewajiban yang selayaknya diamalkan secara rutin dan tidak boleh ditinggalkan oleh kita semua. Sebagai bentuk pengamalan perintah Allah Ta’ala dalam firmannya yang artinya:”Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaku saja”.(QS.Adz-dzariyat:56)
Dan ibadah yang telah kami sebutkan merupakan
ibadah yang dominan bersifat vertikal(ibadah mahdhah), antara makhluk
dengan Sang Khaliq.
Disamping itu, ada juga ibadah yang bersifat
horizontal(ibadah ghoiru mahdhah) yang berupa interaksi sesama manusia.
Hakikat ibadah
Imam Ahmad bin Abdul Halim Al Harraniy rahimahullah pernah
menjelaskan makna dari ibadah. Beliau mengatakan: ”Ibadah adalah seluruh
perkataan dan perbuatan, baik yang lahir maupun batin yang diridhai serta
dicintai oleh Allah Ta’ala’’(At Tanbihat Al Mukhtsoroh,hal: 99).
Dengan demikian kita bisa menganalogikan setiap amal ibadah
yang kita lakukan berupa perbuatan atau perkataan dalam
makna ibadah yang beliau jelaskan.
Macam-macam ibadah
Imam Muhammad bin Sulaiman
At-Tamimiy rahimahullah dalam menjelaskan macam-macam
bentuk ibadah beliau mengatakan:” Diantara berbagai macam ibadah
yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala kepada kita adalah islam,
iman, ihsan, berdo’a, khusyu’, rasa takut, rasa harap, tawakkal, memohon
pertolongan, memohon perlindungan, menyembelih, bernadzar dan masih banyak lagi
amal ibadah yang lain. Semua amal ibadah tersebut hanya boleh ditujukan dan diniatkan kepada
Allah Ta’ala saja’’(Al-Ushuluts Tsalatsah,hal: 6).
Dengan
demikian kita dapat mengklasifikasikan aneka ragam bentuk ibadah
tersebut dalam empat kelompok besar, yaitu:
1. Ibadah
yang dilakukan dengan lisan berupa ucapan dan perkataan. Misalnya berdoa,
memohon pertolongan, memohon perlindungan dan yang lainnya.
2. Ibadah
yang dikerjakan dengan anggota badan. Misalnya menyembelih(berkurban), shalat,
haji dan yang lainnya.
3. Ibadah
yang dikerjakan dengan hati atau yang diistilahkan dengan amalan hati. Misalnya
tawakkal, rasa harap, rasa takut dan yang lainnya.
4. Ibadah
yang dilakukan dengan harta benda yang kita miliki. Misalnya menunaikan zakat ,
menafkahi keluarga, bersedekah kepada tetangga , dan lain sebagainya
Lantas apa indikasi standar dalam menentukan
suatu ibadah?, Dibawah ini akan kami sebutkan batasan-batasannya. Bagaimana
kita bisa mengetahui apakah hal tersebut ibadah atau bukan?. Diantara ciri-ciri
amal ibadah adalah:
1. Apabila
perbuatan tersebut diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfiman
yang artinya:” Maka shalatlah kamu dan berkubanlah(sebagai ibadah
dan mendekatkan diri kepada Allah)”.(QS Al Kautsar:2)
2. Apabila
orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut dipuji oleh Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfiman yang artinya:”Sesungguhya mereka
adalah orang-orang yang selalu bersegera( dalam mengerjakan)
perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan penuh rasa
harap dan cemas. Dan mereka adalah orang – orang yang khusyu ’(dalam beribadah)
kepada kami ”. (QS.Al- anbiya’: 90)
3. Apabila
perbuatan tersebut terlarang jika ditujukan kepada selain
Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfiman yang artinya:”Dan
barangsiapa berdoa(menyembah) tuhan yang lain disamping (menyembah) Allah.
Padahal tidak ada satu dalilpun baginya tentang hal itu.
Maka perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang- orang yang
kafir itu tidak akan pernah beruntung”.QS.Al-mukminun:107
4. Apabila
perbuatan tersebut khusus untuk Allah Ta’ala saja. Allah Ta’ala berfirman
yang artinya:’’ Katakanlah(wahai Muhammad) : ‘’sesungguhnya
shalatku, sembelihanku(kurbanku), hidupku dan matiku hanya untuk
Allah”.(QS.Al-an’am:162)
5. Apabila
perbuatan tersebut mendapatkan balasan atau ganjaran. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda:”Barangsiapa yang berpuasa di bulan
ramadhan dengan penuh keimanan dan ingin mencari pahala,maka akan
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.(Muttafaqun alaiharii).
6. Apabila
orang-orang yang enggan dan sombong dalam melakukan perbuatan tersebut akan
mendapatkan ancaman berupa siksa neraka dari Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya :’’Dan Tuhanmu
berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk
neraka Jahanam dalam keadaan hina dina".(QS Al Mu’min:60)
Dan masih banyak lagi indikasi lainnya yang semakna.
Diterimanya amal ibadah kita
Dengan banyaknya amal ibadah yang kita
praktekkan dan juga dilakukan secara rutin tentunya. Apakah amalan kita
tersebut akan diterima oleh Allah Ta’ala secara otomatis?,
Atau adakah kriteria tertentu agar suatu amal ibadah diterima di
sisi Allah?. Jawabannya adalah ”ya”, tentu ada kriterianya. Dan syarat
diterimanya amal ibadah (Jami’ul Ulum wal Hikam ,hal: 105) yang
kita kerjakan adalah :
1.Niat ikhlas untuk mencari pahala dan ridha dari
Allah Ta’ala.
Sekiranya
ada seseorang bersedekah karena ingin dikatakan sebagai orang yang dermawan,
orang yang kaya raya dan yang lainnya. Maka amal ibadahnya tidak
diterima secara otomatis dan gugur tidak bernilai. Allah Ta’ala berfiman
yang artinya:” Jika kamu mempersekutukan (dalam amal ibadahmu),niscaya akan
hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang – orang yang
merugi”(QS.Az-zumar:65)
Nyatalah bagi kita urgensi niat dalam amal
ibadah yang kita lakukan. Imam Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah mengatakan:”Betapa
banyak amalan yang remeh berubah menjadi bernilai tinggi karena
niat, dan betapa banyak amalan yang agung berubah
menjadi hina karena niat’’(Jami’ul Ulum wal Hikam ,hal:
19). Perkataan beliau ini mengindikasikan kualitas suatu amal ibadah yang kita
lakukan ditentukan oleh niat yang ada dalam hati kita. Apakah kita
menginginkan balasan dari Allah Ta’ala atau yang
selain-Nya.
2. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam.
Apabila
anda adalah seorang penjahit baju. Kemudian hasil kerja anda tidak sesuai
dengan ukuran yang dipesan oleh sang pelanggan, maka sudah bisa dipastikan
bahwa hasil kerja anda akan ditolak, bahkan anda akan mendapat teguran dari
sang pelanggan. Dan dalam beberapa kasus , sang penjahit akan dimintai ganti
rugi. Ini adalah analogi sederhana berkaitan dengan perbuatan sebagian kaum
muslimin yang beribadah tanpa ada tuntunan yang jelas dari Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wasallam.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya:’’ Apakah
mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka
agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan
(dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang
yang lalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih’’.
(QS. Asy-Syura: 21)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga
pernah bersabda:” Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak
ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut akan tertolak”.(HR.Bukhari
dan Muslim)
Diakhir
tulisan yang ringkas ini kami mewasiatkan kepada seluruh kaum muslimin agar
senantiasa menjaga kuantitas dan kualitas amal ibadah mereka dan senantiasa
istiqomah di dalamnya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin secara
umum terkhusus bagi diri penulis. Amiin
Maraji’:
Al-Ushuluts Tsalatsah,
oleh Imam Muhammad bin Sulaiman At-Tamimy rahimahullah
Jami’ul Ulum wal Hikam,
oleh Ibnu Rajab Al-Hambaly rahimahullah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar