Cinta merupakan hal yang lumrah dibicarakan diantara kita. Jikalau
seorang manusia sudah berbicara tentang cinta, maka ia akan ingin terus
membicarakannya. Cinta ibarat samudra yang tidak berbetepi
yang mana bila seseorang telah jatuh ke dalamnya, maka ia akan dibuai ombak-ombaknya
dan enggan untuk mencari tepian untuk berlabuh. Cinta ibarat waktu
yang terus berlalu yang tidak diketahui ujung dan pangkalnya.
Cinta
dalam kehidupan begitu indah sehingga begitu sulit untuk di ungkapkan dengan
kata-kata. Ia hanya terungkap dalam bentuk gerak-gerik anggota badan. Yang akan
kita bahas pada kesempatan kali ini adalah cinta yang sejati. Apa itu
cinta sejati.?
Cinta
sejati
Cinta merupakan sebuah kata yang indah didengar, manis
diucapkan, dan nikmat untuk dirasakan. Cinta merupakan sebuah karunia dan
rahmat yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya.
Cinta sejati
adalah cinta yang tulus dari seorang hamba kepada sang pencipta cinta yaitu
Allah Ta’ala. Hakikat cinta yang tertinggi dan termulia dari
seorang hamba adalah menghambakan diri kepada-Nya. Dan tiada yang berhak
menerima cinta tersebut melainkan Sang pencipta alam semesta dan seisinya. Karena
Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk menghambakan diri kepada-Nya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya : “ Aku tidak
menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS.
Adz-Dzariyat:51-56).
Barangsiapa yang memalingkan
cinta yang sejati dari Allah Ta’ala kepada salain-Nya, maka
itu sumber kebinasaan seorang hamba. Karena hal ini disebut cinta kesyirikan
yang akan membinasakan pelakunya. Allah Ta’ala berfirman
yang artinya : “ Dan di antara manusia ada yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada
Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui
ketika mereka melihat siksa(pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan
Allah semuanya, dan bahwa Allah amat sangat berat siksaan-Nya(niscaya mereka
menyesal).” (QS. Al-Baqarah :165).
Cinta sejati harus ada bukti
Cinta memang
harus ada bukti untuk bisa mengetahui kebenaran cintanya. Namun yang amat
disayangkan kebanyakan manusia saat sekarang ini mengaku bahwa ia mencintai
Allah Ta’ala akan tetapi bersamaan dengan itu juga ia
bermaksiat kepada-Nya. Bukankah orang yang mencintai itu akan selalu menuruti
apa yang diperintahkan sang kekasihnya..?. Jikalau demikian adanya, benarkah
pernyataan mereka yang mengatakan cinta kepada Allah Ta’ala namun
pada saat itu juga ia menyelisihi apa yang diperintahkan Allah Ta’ala kepadanya.
Seorang penyair berkata :
Engkau katakan mencintai Allah, tetapi engkau bermaksiat
kepada-Nya.....
ini merupakan sebuah permisalan yang rancu.....
jikalau cintamu itu tulus kepada-Nya niscaya engkau akan menta’ati-Nya....
karena seorang pecinta akan selalu menaati sang kekasihnya......
Jikalau
seseorang telah mengaku bahwa ia mencintai Allah Ta’ala dan
Rasul-Nya, maka sudah tentu pernyataan tersebut bukanlah pernyataan yang sepele
dan sekedar diucapkan begitu saja. Karena pernyataan cinta kepada Allah Ta’ala harus
ada bukti nyata dalam kehidupan orang tersebut. Dan dengan itu juga ukuran
keimanan seseorang akan di tentukan. Allah Ta’ala berfirman
yang artinya : “ Nabi itu(hendaknya) lebih utama bagi orang-orang
mukmin dari diri mereka sendiri. (QS. Al- ahzab :6)
Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam juga bersabda yang artinya : “
Tidaklah seorang hamba beriman hingga aku menjadi orang yang lebih ia cintai
daripada anaknya,orang tuanya dan manusia semuanya.”(HR. Bukhari, Muslim,
An-Nasa’i dan Ibnu Majah)
Namun yang sangat menyayat hati kenyataan di sekitar kita,
kebanyakan manusia mencintai orang lain melebihi cintanya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.
Bahkan sebagian manusia juga telah terjatuh kepada mencintai sesuatu jauh
melebihi cintanya kepada diri sendiri, orang tua, maupun anak-anaknya
sekalipun. Dan ironisnya sebagian umat ini telah mencintai sesuatu sebagai
tandingan bagi Allah Ta’ala. Mereka mencintainya seperti cinta
mereka kepada Allah Ta’ala. Wal’iyadzubillah.
Diriwayatkan dari Abdullah bin hisyam radhiyallahu ‘anhu ia
berkata: Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
ketika itu Beliau menggandeng tangan Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu
‘anhu, lalu Umar berkata kepada Beliau, “ Wahai Rasulullah sungguh engkau
lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri. Maka Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda: “ Tidak! Demi Dzat yang jiwaku ada
di tangan-Nya, hingga aku menjadi orang yang lebih engkau cintai daripada
dirimu sendiri.” Maka Umar pun berkata kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam: “ Sungguh sekarang, demi Allah Ta’ala engkau
sungguh lebih aku cintai dari pada diriku sendiri.” Maka Beliau
Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekaranglah wahai Umar!(yakni,
baru sekaranglah imanmu sempurna).(HR. Bukhari)
Pedoman
hakikat cinta
Allah Ta’ala telah
telah memberikan sebuah pedoman untuk mengetahui hakikat pengakuan cinta
seseorang. Bahwa yang menjadi ukuran dan bukti cinta seseorang kepada
Allah Ta’ala adalah sejauh mana ia dalam mengikuti
petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala menurunkan
sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang dinamakan oleh para ulama ayatul
imtihan(ujian) yang artinya: “ Katakanlah (Muhammad): “ jika
kamu(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah mencintai dan
mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun dan Penyayang.”(QS.
Ali- ‘imran: 31)
Mengikuti
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan bukti cinta
seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala memberikan
janji kepada hamba-Nya berupa balasan cinta dan ampunan-Nya. Karena ia telah
memenuhi syarat cinta. Mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam merupakan bukti dan realisasi pengakuan cinta seseorang
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang harus
didahulukan dan diletakkan diatas cinta kepada yang lainnya. Dan inilah
hakikat cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang
sebenarnya. Barangsiapa yang menyelisihi, menyimpang, dan meningggalkan
petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, apalagi
mengolok-ngolok, meremehkan, menghina dan menghujat sunnah Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam, maka ia telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala,
sekaligus menghilangkan kesempurnaan atau bahkan seluruh keimanannya.
Maka oleh karena itu janganlah sekali-kali
kita melakukan hal-hal yang dapat membatalkan keimanan kita. Cintailah Allah Ta’ala dan
rasul-Nya dengan cinta yang sempurna, niscaya kita akan merasakan
kebahagiaan di dunia dan akhirat. Hanya kepada-Nyalah seharusnya kita
memberikan cinta di atas cinta. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis
sendiri dan orang yang membacanya. Wa lillahil mahabbah.(Khaidir)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar