Kamis, 15 November 2012

GERHANA

            Masyarakat Indonesia telah meyaksikan fenomena alam, gerhana matahar, 20 Mei 2012. Ini merupakan gerhana matahari pertama tahun ini. Namun untuk wilayah Indonesia bukan penampakan seperti cicin yang terlihat melainkan gerhana matahari sebagian. Beginilah berita yang dirilis oleh SoloPos selasa 8/5/2012 silam (www.solopos.com) menunjukkan antusias masyarakat menyaksikan gerhana. Lantas apa itu gerhana dan ada apa dibalik itu semua?

Gerhana bukan kata pendatang baru di telinga kita, ia kerap kali hinggap dan membuat penasaran kita ingin menyaksikannya.
Gerhana merupakan fenomena astronomi, yang mana sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Gerhana tidak hanya terjadi pada matahari atau bulan melainkan juga pada benda angksa lainnya. Namun, istilah ini umumnya digunakan untuk gerhana Matahari ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, atau gerhana bulan saat sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. (http://id.wikipedia.org/wiki/Gerhana).
Pada tulisan kali ini kita tidak membahas tentang gerhana secara sains karena sudah banyak yang membicarakannya, bahkan sejak dahulu Ibnu Hajar rahimahullah dan lainnya sudah membicarakan penyebab alamiah terjadinya gerhana dalam kitabnya ( Fathul Bari). Namun lebih jauh daripada itu kita akan berbicara tentang hikmah gerhana, apa tujuan dibalik fenomena gerhana, dan apa yang harus kita lakukan jika terjadi gerhana, baik gerhana matahari maupun bulan, karena hanya itu yang dapat kita saksikan.
Hikmah dibalik gerhana
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesunggunhnya matahari dan bulan merupakan bukti kekuasaan Allah, keduanya tidak mengalami gerhana untuk menunjukkan kematian atau kelahiran seseorang. Namun, lebih dari itu, Allah melakukannya untuk mengigatkan hambanya agar kembali sadar dan takut pada Allah. (HR. Bukhari: 1048).
Dalam hadits ini sangat jelas tujuan gerhana bukan untuk hal sepele, diberitakan di media kemudian disaksikan tanpa ada pengaruh pada keimanan.  Tapi, hikmah adanya gerhana adalah agar kita merenungi kembali nikmat Allah Ta’ala  berupa cahaya matahari dan bulan.  Sekiranya Allah Ta’ala mengambil nikmat ini, maka berakhirlah kehidupan dunia ini. Dan agar kita merenungi kembali kebesaran Allah Ta’ala  yang telah menciptakan keduanya untuk kita,  dan agar kita takut kepada Allah Ta’ala  yang Maha perkasa dengan beristighfar dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah Ta’ala  pemilik jagat raya.
Oleh karenanya ketika gerhana matahari terjadi dimasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau merasa cemas, kemudian Beliau bergegas ke masjid dan memerintahkan kaum muslimin untuk menegakkan shalat dengan berjamaah, maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan sangat panjang. Para sahabat saat itu juga ketakutan, mereka menangis, berdoa dengan khusyu’ dihadapan Allah Ta’ala  yang maha perkasa (Syahul mumti’). Namun, sayangnya  saat ini fenomena gerhana tidak lebih dari sekedar hiburan yang tak begitu berarti. Nas alullahas salamah.
Apa yang harus kita perbuat:
Ada beberapa hal  yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi gerhana:
1.      Meperbanyak  do’a, istingfar, takbir, dzikir, sedekah dan amal ibadah lainnya. ( Shahih Fiqh Sunnah). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dan dirikanlah shalat…”(HR. Bukhari: 1044)
2.      Pergi menuju Masjid, baik kaum pria dan wanita untuk mendirikan shalat gerhana berjamah. ( HR. Bukhari: 1053-1056) Namun, jika dalam suatu daerah tidak ada yang melaksanakannya secara berjamaah, maka anda boleh melaksanakannya sendirian. (Al - Mughni,oleh Ibnu Qudamah)
3.      Disunnahkan untuk menyeru jamaah dengan mengumandangkan “Innas sholata jaamia’h”, artinya: shalat dengan berjamaah akan segera dimulai. (HR. Bukhari: 1045)
Dan tidak disyariatkan azdan atau iqamah( Fathul Bari)
4.      Kemudian shalat dua rakaat dengan berjamaah.
Tata cara shalatnya seperti shalat biasa, takbir,membaca iftiftah, alfatihah, dan ayat dari Al- Qur’an, kemudian ruku’ dan  bangkit dari ruku’ dengan membaca samiallahuliman hamidah, rabbana walakal hamdu, ( Al Mughni dan Raudhatut Thalibin, oleh Imam Nawawi rahimahullah) seperti biasa .
 Hanya saja, setelah ruku’ dan bangkit dari ruku’, jangan langsung sujud seperti shalat biasa, tapi setelah bangkit dari ruku’, kembali baca Al - fatihah dan ayat dari Al- Qur’an, kemudian ruku’ lagi, I’tidal dan terus sujud sampai berakhir satu rakaat. Begitulah seterusnya shalat gerhana dilakukan dua rakaat, di setiap rakaat membaca Al fatihah sebanyak dua kali, dua kali baca surah dan dua kali ruku’. Jadi dalam dua rakaat ada empat kali baca Al fatihah, empat kali baca surah dan empat kali ruku’.Lihat HR. Bukhari: 1046-1047.
5.      Imam mengeraskan bacaannya seperti shalat subuh. Lihat HR. Bukhari:1065.
6.      Disyariatkan Imam memperlama berdiri dengan membaca surah yang panjang dan memperlama ruku’  dan sujud dengan doa dan zdikir mengagungkan Allah Taa’la. Lihat HR. Bukhari: 1046-1047.
7.      Setelah selesai shalat disyariatkan bagi Imam atau yang lain untuk berkhutbah seperti khubah I’d.  Aisyah radhiyallah anha menceritakan : Bahwa setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat gerhana beliau berkhutbah, beliau memuji dan menyanjung Allah Ta’ala, kemudian bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian dan kelahiran seseorang, apabila kalian melihat gerhana maka bedoalah kepada Allah, bertakbirlah, dirikan shalat serta perbanyak sedekah…” Lihat HR. Bukhari: 1044                                                                                                                                                                                                                                                          
8.      Waktu mendirikan shalat gerhana yaitu ketika gerhana itu terjadi. Jika gerhana telah seleai, cahaya matahari atau bulan sudah terlihat kembali maka saat itu berakhir waktu shalat  gerhana, maka bagi orang yang belum sholat tidak boleh shalat.
 Dan jika gerhana berakhir ketika sedang shalat, maka shalat dan khutbah terus dilanjutkan. Dan dibolehkan mendirikan shalat gerhana ketika gerhana sudah berjalan setengah, karena waktu akhirnya sampai gehananya benar-benar berakhir sempurna. (Shahih fiqh Sunnah)
Itulah sekilas ulasan tentang gerhana dalam perpektif Islam, yang intinya, jangan jadikan gerhana hanya sebatas bahan coretan atau perbincangan media yang mengundang kita untuk menyaksikan fenomena langka tersebut. Namun, jauh dari itu, jadikanlah gerhana sebagai media untuk merenung dan memikirkan kebesaran Allah, yang berimbas pada kesadaran diri, istighfar, doa, sedekah dan amal ibadah lainnya. Dan yang jangan lupa lakukan shalat gerhana di Masjid secara berjamaah pria dan wanita, jangan sampai gara-gara hanya ingin menyaksikan fenomena gerhana, shalat gerhana berjamah di masjid yang diperintahkan terlupakan, seperti yang sering terjadi jika ada fenomena gerhana. (Ghufron).
Referensi : Al - Mughni,oleh Imam Ibnu Qudamah rahimahullah
                  Raudhatut Thalibin, oleh Imam Nawawi rahimahullah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar